Dalam apel tersebut
akan disampaikan kepada Muspida Kalsel, bahwa semua kesatuan aksi yang
tergabung di Kalsel mengutuk pemerintah RRT yang ikut mendalangi peristiwa G 30
S PKI dan menuntut ditutupnya Konsulat RRT di Banjarmasin.
Tanggal 9 Februari 1966
Almarhum Anang Adenensi bersama HM. Taufik Effendie, SE, MBA di tanggakap
Polresta Banjarmasin, karena telah melakukan pemukulan terhadap Bapak Drs
Iskandari seorang Dosen IKIP Negeri Banjarmasin karena menuduh KAMI Konsulat
Kalsel dalam aksinya ditunggangi oleh CIA (Amerika).
Disamping itu ada
permintaan dari salah seorang anggota Presidium KAMI Konsulat Kalsel agar Anang
Adenensi dan HM, Taufik Effendie, SE, MBA supaya di tahan menjelang apel besar
tanggal 10 Februari 1966, karena mereka berdua di khawatirkan pada saat apel 10
Februari 1966 tersebut akan melakukan hal-hal yang ekstrim diluar
rencana-rencana yang sudah ditaur.
Menjelang apel tanggal
10 Febrauri 1966 sekitar jam 07.00 Wita HM, Taufik Effendie, SE, MBA titip
pesan melalui Syahril Isbat untuk disampaikan kepada Abdussamad (Alm) agar
barisan mahasiswa Unlam waktu menuju ke Kantor Gubernur di bagi menjadi dua,
sebagaian menuju kekantor Gubernur, dan sebagaian lagi ke Poleresta untuk
membebaskan Anang Adenensi bersama HM, Taufik Effendie, SE, MBA, mereka berdua
berhasil dibebaskan dengan paksa oleh mahasiswa Unlam, dan langsung bergabung
kehalaman kantor Gubernur untuk mengikuti apel.
Setelah selesai
membacakan pernyataan sikap dan menyerahkannya kepada Muspida Kalsel yang di
terima langsung oleh pejabat Pangdam Kodam X Lambung Mangkurat Bapak Kolonel
Soetopoyono, para demonstran dengan tertib meninggalkan halaman kantor Gubernur
menuju ke Konsulat RRT di jalan Pacinan Laut (sekarang jalan KP Tendean).
Dalam perjalanan,
seakan-akan bumi menangis waktu karena hujan turun dengan derasnya mengiringi
para demonstaran menuju Konsulat RRT.
Setibanya di Konsulat
RRT, para demonstran tidak bisa masuk ke Gedung Konsulat, karena disamping
pagar dikunci dan dijaga ketat oleh barisan keamanan, ditambah beberapa pemadam kebakaran.
Ketua Presidium KAMI
Konsulat Kalsel Mas Abikarsa (Alm), dengan dipaksa para demonstran berhasil
naik pagar Konsulat RRT dan membacakan tuntutan agar Konsulat RRT di Banjarmasin
supaya ditutup, dibawah tembakan dan semprotan air dari pemadam kebakaran,
ditambah hujan turun dengan deras. Setelah selesai membacakan tuntutan, para
demonstran kembali kekampus Unlam kejalan Lambung Mangkurat dengan tetap di
jaga kekatat barisan keamanan pasukan Jon K di sertai tembakan (yang akhirnya diketahui
bahawa pasukan Jon K tersebut adalah
pasukan yang mendukung PKI dalam Gerakan G 30 S yang di asingkan di
Banjarmasin), dan waktu itu ada beberapa demonstran yang terkena senjata
senjata bayonet, diantaranya Imbran dan langsung dibawa ke Rumah Sakit Ulin
untuk pertolongan.
Selain takut dan
paniknya para demonstran waktu itu, mereka juga dihujani dengan tembakan yang
tidak ada henti-hentinya dari keamanan pasukan Jon K, sehingga barisan terbagi
dua, sebagian melewati Hasanuddin dan sebagian mengambil Jalan Sudimampir.
Persis
di Simpang Tiga Jalan Sudimampir tepatnya di muka toko Minseng, terkapar
seorang mahasiswa Fakultas Ekonomi Unlam saudara Hasanuddin HM terkena tembakan
dan peluru menembus dadanya oleh salah seorang barisan keamanan pasukan Jon K
sambil memegang Spanduk yang berbunyi “ Hanya Ada Satu Pilihan, Jadi Bangsa
Indoneisa atau Bangsa Asing”, yang
sampai sekarang belum tahu siapa pelaku penembaknya.
Hasanuddin HM langsung
dibawa kerumah Sakit Ulin namun sayang dalam perjalanan Hasanuddin HM telah
menghembuskan nafas nya yang terakhir, mengahdap Allah SWT.
Tanggal 11 Februari
1966 Almarhum Hasanuddin HM sebelum dimakamkan, di semayamkan dahalu di Kampus
Unlam Jalan Lambung Mangkurat, kemudian jenazah dilepas oleh Rektor Unlam Bapak
Milono dengan acara militer.
Tidak lama kemudian Tuntutan
angkatan Eksponen 66 Kalsel berhasil dengan ditutupnya Konsulat RRT di Banjarmasin dan
semua aset milik Konsulat RRT diambil alih oleh Peperada Kalsel, beserrta Muspida
memutuskan bahwa Hasanuddin HM ditetapkan sebagai Pahlawan Ampera Perta di
Indonesia.
Demikian sekilas
Riwayat singkat gugurnyaa Pahlawan ampere Pertama Hasanuddin HM agar selalu
kita kenang perjuangannya. Selamat jalan Hasanuddin HM, semoga semangatmu
dilanjutkan oleh generasi penerus.\
“Kutipan dari cerita singkat Bapak HM. Taufik Effendie, SE, MBA yang dimuat di Kalimanatan Post tanggal 09/02/2013”
Muhamad Pazri, SH
Mantan Presiden Mahasiswa Universitas Lambung
Mangjurat 2012