BANJARMASIN - Sekitar 300 Badan Eksekutif Mahasiswa
(BEM) seluruh Indonesia akan berkumpul di Kalsel, Oktober mendatang.
Mereka akan membahas tema "kemandirian energi" untuk Kalimantan dalam
Rapat Kerja Nasional (Rakernas) BEM Seluruh Indonesia (SI). Unlam bakal
jadi tuan rumah kegiatan ini.
Masalah kemandirian energi diambil lantaran di Kalimantan
masyarakatnya dianggap belum merasakan keadilan pembangunan
infrastruktur energi, seperti energi listrik dan bahan bakar minyak
(BBM).
"Kami sengaja akan membawa masalah kemandirian energi ini pada
Rakernas BEM SI oktober nanti. Rakernas kali ini, kami menjadi tuan
rumah," kata Presiden BEM Keluarga Mahasiswa (KM) Unlam, Muhamad Pazri
kepada Radar Banjarmasin, Jumat (7/9) siang.
Menurutnya, rata-rata, provinsi yang ada di Kalimantan masih belum
memiliki kemandirian energi, padahal Kalimantan adalah lumbung energi,
seperti batubara, dan minyak. Sehingga sudah saatnya, Kalimantan
mempunyai solusi baru yang bisa diterapkan, tak sekadar wacana.
"Makanya akan kami bawa untuk dibahas bersama 300 BEM seluruh
Indonesia. Kami ingin ada bahasan mendalam, dan menghasilkan solusi
konkret dan bisa direalisasikan di lapangan. Jadi tak hanya mengkritisi,
namun solutif," urainya.
Rencananya, hasil rekomendasi berupa solusi dan pembahasan tentang
kemandirian energi , akan diserahkan langsung kepada Gubernur Kalsel H
Rudy Ariffin, sebagai bentuk kepedulian dan solusi mahasiswa atas krisis
energi untuk Kalimantan pada umumnya, dan Kalsel pada khususnya.
"Akan kami serahkan hasilnya, berupa semacam solusi, sebagai bahan
masukan untuk para gubernur di Kalimantan. Kebetulan gubernur kita
adalah koordinator gubernur se Kalimantan. Jadi akan kita serahkan
secara simbolis," kata Pazri.
Ditanya soal kemungkinan adanya aksi besar-besaran di Banjarmasin,
Pazri tak mau membocorkan. Ia hanya menekankan, Rakernas nanti sangat
diharapkan menghasilkan rekomendasi yang benar-benar mudah diaplikasikan
di lapangan. Namun selain bahasan kemandirian energi, juga akan dibahas isu nasional seperti UU Perguruan Tinggi dan lain-lain.
"Kalau masalah aksi, nanti dulu lah diinformasikan. Tidak menarik
kalau diinformasikan sekarang. Namun intinya, BEM sebagai interpretasi
dari mahasiswa, ingin memberikan solusi. Isu nasional jelas akan
diangkat juga, salah satunya tentang UU Perguruan Tinggi yang dianggap
merugikan mahasiswa dengan ekonomi lemah," tandasnya. (sip/az/tri)
Arsip Berita 2012 : www.radarbanjarmasin.co.id
