BANJARMASINPOST.CO.ID,
- BANJARMASIN - Kabar gembira untuk sivitas akademika Universitas
Lambung Mangkurat (Unlam). Setelah mendapat izin membuka program S3
(doktoral), Unlam dikabarkan akan mendapat bantuan dana 47,5 juta dolar
AS dari Islamic Development Bank (IDB) dan pemerintah Indonesia.
Hebatnya, dana itu terbesar dibanding enam universitas lainnya di Indonesia yang mendapat bantuan serupa. Mereka adalah Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, Universitas Tanjungpura Pontianak, Universitas Sam Ratulangi Manado, Universitas Negeri Gorontalo dan Universitas Negeri Surabaya.
Tidak mudah bisa memperoleh bantuan tersebut. Setidaknya selama dua tahun pengelola Unlam memperjuangkannya. Proses panjang termasuk presentasi di tingkat Internasional juga harus ditempuh.
Pada 10-11 Januari 2013 kemarin, tin penilai mendatangi Unlam untuk mengetahui secara langsung kesiapan Unlam mengelola dana bantuan bernilai besar tersebut. Tim tersebut terdiri atas pewakilan IDB, Konsultan IDB/Bapenas dan perwakilan Dirjen Dikti Kemendikbud.
“Ya, tim sudah datang ke Unlam dan merasa puas terhadap kesiapan Unlam. Bantuan itu untuk pengembangan kualitas dan relevansi institusi,” kata Pembantu Rektor IV Unlam Bidang Perencanaan dan Kerja Sama, Sutarto Hadi di Banjarmasin, Rabu (30/1).
Untuk apa dana itu? Sutarto mengatakan, rencananya untuk meningkatkan kapasitas Unlam. Antara lain membangun 12 unit gedung baru, seperti auditorium, sport center, laboratorium, lecture teather, perpustakaan dan Student Activity Center.
Juga akan dibangun gedung perkuliahan yang canggih dan modern untuk FISIP, Fakultas Hukum dan Fakultas Ekonomi. Semua itu untuk menciptakan universitas modern.
“Selain itu, untuk staf development dan merevitalisasi kurikulum. Pembelian alat-alat penunjang perkuliahan dan pengembangan ICT Center dan pengembangan infrastruktur,” tegasnya.
Rektor Unlam HM Ruslan mengaku sangat bersyukur dan bangga karena Unlam mendapat bantuan yang bisa meningkatkan kualitas dosen dan mahasiswanya. Apalagi, mulai tahun depan, bantuan tersebut sudah tidak dikucurkan lagi. “Alhamdulilah, semoga lancar karena ini untuk generasi mendatang,” kata dia.
Ekspose
Sebelum bantuan itu cair, Sutarto mengungkapkan pada akhir Maret 2013 mendatang, IDB dan pihak terkait melakukan ekspose di kantor pusat IDB, Jeddah, Arab Saudi.
“Masih ada langkah untuk mencapai final. Masih akan diekspos dulu di Jeddah, yakni membahas hasil peninjauan dan diskusi teknis. Kami tidak ikut karena itu rapat internal IDB yang tidak boleh diintervensi,” katanya.
Lantas apa langkah Unlam? “Kami sudah mengirim seluruh dokumen dan data pendukung. Yang sangat krusial adalah kesiapan lahan. Alhamdulillah, semua lahan Unlam sudah bersertifikat, jadi tidak ada masalah. Pembangunan akan dilakukan merata di Banjarmasin dan Banjarbaru. Proyek ini baru kelihatan hasilnya pada dua hingga lima tahun mendatang,” tegasnya.
Menyikapi itu, mantan Presiden BEM-KM Unlam Muhamad Pazri menyerukan transparansi penggunaan sesuai prosedur dan pengawasan ketat agar pemanfaatan dana tersebut sesuai alokasi dan perencanaan. “Semua harus mengawal, memantau dan mengawasinya,” tegas dia.
Sedangkan Pjs Presiden BEM Unlam, Rusdi Akbar mengaku sangat bersyukur terhadap kemajuan Unlam saat ini. “Saya memang belum tahu kabar ini, namun yang jelas ini kabar baik untuk kemajuan Unlam. Semoga transparan saja dalam pemanfaatannya,” katanya. (kur)
Hebatnya, dana itu terbesar dibanding enam universitas lainnya di Indonesia yang mendapat bantuan serupa. Mereka adalah Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, Universitas Tanjungpura Pontianak, Universitas Sam Ratulangi Manado, Universitas Negeri Gorontalo dan Universitas Negeri Surabaya.
Tidak mudah bisa memperoleh bantuan tersebut. Setidaknya selama dua tahun pengelola Unlam memperjuangkannya. Proses panjang termasuk presentasi di tingkat Internasional juga harus ditempuh.
Pada 10-11 Januari 2013 kemarin, tin penilai mendatangi Unlam untuk mengetahui secara langsung kesiapan Unlam mengelola dana bantuan bernilai besar tersebut. Tim tersebut terdiri atas pewakilan IDB, Konsultan IDB/Bapenas dan perwakilan Dirjen Dikti Kemendikbud.
“Ya, tim sudah datang ke Unlam dan merasa puas terhadap kesiapan Unlam. Bantuan itu untuk pengembangan kualitas dan relevansi institusi,” kata Pembantu Rektor IV Unlam Bidang Perencanaan dan Kerja Sama, Sutarto Hadi di Banjarmasin, Rabu (30/1).
Untuk apa dana itu? Sutarto mengatakan, rencananya untuk meningkatkan kapasitas Unlam. Antara lain membangun 12 unit gedung baru, seperti auditorium, sport center, laboratorium, lecture teather, perpustakaan dan Student Activity Center.
Juga akan dibangun gedung perkuliahan yang canggih dan modern untuk FISIP, Fakultas Hukum dan Fakultas Ekonomi. Semua itu untuk menciptakan universitas modern.
“Selain itu, untuk staf development dan merevitalisasi kurikulum. Pembelian alat-alat penunjang perkuliahan dan pengembangan ICT Center dan pengembangan infrastruktur,” tegasnya.
Rektor Unlam HM Ruslan mengaku sangat bersyukur dan bangga karena Unlam mendapat bantuan yang bisa meningkatkan kualitas dosen dan mahasiswanya. Apalagi, mulai tahun depan, bantuan tersebut sudah tidak dikucurkan lagi. “Alhamdulilah, semoga lancar karena ini untuk generasi mendatang,” kata dia.
Ekspose
Sebelum bantuan itu cair, Sutarto mengungkapkan pada akhir Maret 2013 mendatang, IDB dan pihak terkait melakukan ekspose di kantor pusat IDB, Jeddah, Arab Saudi.
“Masih ada langkah untuk mencapai final. Masih akan diekspos dulu di Jeddah, yakni membahas hasil peninjauan dan diskusi teknis. Kami tidak ikut karena itu rapat internal IDB yang tidak boleh diintervensi,” katanya.
Lantas apa langkah Unlam? “Kami sudah mengirim seluruh dokumen dan data pendukung. Yang sangat krusial adalah kesiapan lahan. Alhamdulillah, semua lahan Unlam sudah bersertifikat, jadi tidak ada masalah. Pembangunan akan dilakukan merata di Banjarmasin dan Banjarbaru. Proyek ini baru kelihatan hasilnya pada dua hingga lima tahun mendatang,” tegasnya.
Menyikapi itu, mantan Presiden BEM-KM Unlam Muhamad Pazri menyerukan transparansi penggunaan sesuai prosedur dan pengawasan ketat agar pemanfaatan dana tersebut sesuai alokasi dan perencanaan. “Semua harus mengawal, memantau dan mengawasinya,” tegas dia.
Sedangkan Pjs Presiden BEM Unlam, Rusdi Akbar mengaku sangat bersyukur terhadap kemajuan Unlam saat ini. “Saya memang belum tahu kabar ini, namun yang jelas ini kabar baik untuk kemajuan Unlam. Semoga transparan saja dalam pemanfaatannya,” katanya. (kur)
